Jumat, 24 Mei 2013

Mengenal makna pendidikan pemikiran Ki Hajar Dewantara

  Sejarah panjang tentang pendidikan indonesia sebenarnya pasti akan mengakar pada pemikiran Ki Hadjar Dewantara, beliau merupakan salah satu pahlawan perjuangan kemerdekaan yang menegakan nasib rakyat indonesia melalui pendidikan. Pengertian pendidikan menurut KBBI ( kamus besar bahasa indonesia) adalah proses mengubah sikap dan tata laku sesorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan adalah proses cara perbuatan mendidik. Sedangkan menurut secara umum Pendidikan diartikan sebuah usaha sadar yang terencana yang dilakukan untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif dapat mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, dan juga keterampilan yang diperlukan untuk dirinya sendiri beserta masyarakat.     
    Terlepas dari pengertian diatas sudah selayaknya pendidikan menjadikan manusia yang sesungguhnya seperti Filosofi pendidikan Ki Hajar Dewantara. Yang menempatkan kemerdekaan sebagai syarat dan juga tujuan membentuk kepribadian dan kemerdekaan batin bangsa Indonesia agar peserta didik selalu kokoh berdiri membela perjuangan bangsanya. Karena kemerdekaan menjadi tujuan pelaksanaan pendidikan, maka sistim pengajaran haruslah berfaedah bagi pembangunan jiwa dan raga bangsa. Untuk itu, di mepHajar Dewantara, bahan-bahan pengajaran harus disesuaikan dengan kebutuhan hidup rakyat.
     Bagi Ki Hajar Dewantara, pendidikan tidak boleh dimaknai sebagai paksaan; kita harus mengunakan dasar tertib dan damai, tata tentram dan kelangsungan kehidupan batin, kecintaan pada tanah air menjadi prioritas.  Karena ketetapan pikiran dan batin itulah yang akan menentukan kualitas seseorang. Memajukan pertumbuhan budi pekerti- pikiran merupakan satu kesatuan yang tidak dapat terpisahkan, agar pendidikan dapat memajukan kesempurnaan hidup. Yakni: kehidupan yang selaras dengan perkembangan dunia. Tanpa meninggalkan jiwa kebangsaan. Dunia terus mengalami perkembangan, pergaulan hidup antar satu bangsa dengan bangsa lainnya tidak dapat terhindarkan. Pengaruh kebudayaan dari luar semakin mungkin untuk masuk berakulturasi dengan kebudayaan nasional. Oleh karena itu, seperti dianjurkan Ki Hajar Dewantara, haruslah kita memilih mana yang baik untuk menambah kemulian hidup dan mana kebudayaan luar yang akan merusak jiwa rakyat Indonesia dengan selalu mengingat: semua kemajuan dilapangan ilmu pengetahuan harus terorientasikan dalam pembangunan martabat bangsa.
     Lewat pendidikan ia mempunyai misi untuk memerdekakan bangsa Indonesia dari penindasan penjajahan kolonial kala itu. Keberanian Ki Hajar Dewantara adalah dengan mendirikan Perguruan Taman Siswa pada tahun 1922. Sesuai dengan visi misinya, siapapun boleh mengikuti pendidikan di Taman Siswa, tidak terkecuali kaya atau miskin. Sehingga, Taman Siswa menjadi alternatif bagi bangsa Indonesia, khususnya masyarakat miskin untuk mendapatkan pendidikan. Namun, bagi Belanda sendiri yang saat itu menjajah negeri ini, perguruan tersebut dikategorikan sebagai sekolah liar.


Apa yang menjadi tujuan Ki Hajar Dewantara untuk memajukan pendidikan di Indonesia saat ini seolah pudar, misinya seolah tergerus oleh sistem pendidikan yang ada saat ini. Biaya pendidikan semakin mahal sehingga tidak semua warga Indonesia terutama masyarakat miskin bisa mendapatkan pendidikan yang layak. Hal ini bertentangan dengan Undang-undang Dasar 1945, yang menjadi aturan tertinggi di negara ini, bahwa setiap warga negara berhak atas pendidikan yang layak.

     Ki Hajar Dewantara mempunyai azas dan dasar-dasar pendidikan dalam mendirikan Taman Siswa, dua dasar yang menjadi poin utama yang paling mendasar adalah kemerdekaan dan keadilan sosial, dimana Ki Hajar Dewantara menekankan hak kemerdekaan kepada setiap individu untuk mengatur dirinya sendiri namun bukan kebebasan yang tanpa batas, pendidikan yang dibangun Ki Hajar Dewantara tidak mengenal unsur paksaan dan hukuman, juga tidak mengenal kompetisi tapi tetap mengutamakan kreativitas.
     pemikiran atau konsep pendidikan yang dibangun Ki Hajar Dewantara sudah saatnya dibangkitkan. saat ini keadaan pendidikan di Indonesia hampir sama kondisinya dengan zaman Ki Hajar Dewantara dulu atau pada masa penjajahan. Di era penjajahan Belanda, tidak semua warga pribumi  terutama kaum miskin bisa mengenyam pendidikan secara layak. Pendidikan hanya bisa dirasakan oleh kaum kaya, salah satunya yaitu orang yang mempunyai hubungan dengan pemerintah Belanda saat itu. Pun halnya pendidikan saat ini, tidak semua lapisan masyarakat bisa mengenyam pendidikan yang berkualitas. Malah pemerintah sendiri, seolah menciptakan pengkotakan sekolah, yaitu sekolah untuk orang kaya dan orang miskin. Sekolah orang kaya kualitasnya jauh lebih baik dibandingkan sekolah orang miskin, begitu juga dengan sarana dan prasarananya. Salah satu contoh adalah menciptakan  Rintisan Sekolah Bertaraf Internasional (RSBI), meskipun pada akhirnya konsep tersebut dihapuskan demi hukum setelah Mahkamah Konstitusi memutuskan untuk menghapus sekolah RSBI. Namun, tidak menutup kemungkinan konsep sekolah yang sama akan digagas pemerintah yaitu sekolah mandiri sebagai pengganti RSBI.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar